JAKARTA - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengulangi tuntutannya agar Hamas melucuti senjata dan para pemimpinnya meninggalkan Gaza.
Netanyahu mengancam meningkatkan tekanan pada kelompok tersebut sambil melanjutkan upaya untuk memulangkan para sandera.
Dia mengatakan Israel akan berupaya untuk melaksanakan "rencana migrasi sukarela" Presiden AS Donald Trump untuk Gaza dan mengatakan kabinetnya telah setuju untuk terus menekan Hamas, yang mengatakan menyetujui proposal gencatan senjata dari mediator Mesir dan Qatar.
Pejabat senior Hamas Sami Abu Zuhri mengatakan pernyataan Netanyahu merupakan pertanda untuk "eskalasi tanpa akhir" di wilayah tersebut.
Netanyahu menolak pernyataan yang menganggap Israel tidak ingin bernegosiasi.
“Kami melakukannya di bawah tembakan, dan karena itu juga efektif. Kami melihat bahwa tiba-tiba ada keretakan," katanya dilansir Reuters, Senin, 31 Maret.
Pada Sabtu, Khalil al-Hayya, pemimpin Hamas di Gaza, mengatakan kelompok itu menyetujui proposal yang menurut sumber keamanan termasuk pembebasan lima sandera Israel setiap minggu.
Namun, ia mengatakan meletakkan senjata seperti yang dituntut Israel adalah "garis merah" yang tidak akan dilanggar kelompok itu.
Pada Minggu, hari pertama hari raya Idulfitri, otoritas kesehatan di Gaza mengatakan 24 orang, termasuk beberapa anak-anak, tewas dalam serangan Israel.
Sembilan orang tewas dalam satu tenda di kota selatan Khan Younis.
Sementara Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan pihaknya akhirnya mendapatkan akses untuk mencari tim penyelamat yang diserang Israel selama misi penyelamatan di Rafah barat, seminggu setelah serangan.
Tim menemukan 13 jenazah dari tempat kejadian, tujuh di antaranya adalah anggota Bulan Sabit Merah Palestina, lima lainnya dari Layanan Darurat Sipil Gaza, dan satu lagi adalah pekerja Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sejak Israel melanjutkan serangannya di Gaza pada tanggal 18 Maret, ratusan warga Palestina telah tewas dan puluhan ribu orang terpaksa mengungsi dari daerah-daerah di Gaza utara tempat mereka kembali setelah perjanjian gencatan senjata pada Januari.
Netanyahu mengatakan Israel menuntut Hamas meletakkan senjata dan mengatakan para pemimpinnya akan diizinkan meninggalkan Gaza.
Dia tidak memberikan perincian tentang berapa lama pasukan Israel akan tetap berada di daerah kantong itu tetapi mengulangi bahwa kapasitas militer dan pemerintahan Hamas harus dihancurkan.
"Kami akan memastikan keamanan umum di Jalur Gaza dan memungkinkan pelaksanaan rencana Trump, rencana emigrasi sukarela," katanya.
"Itulah rencananya, kami tidak menyembunyikannya, kami siap untuk membahasnya kapan saja,” tegasnya.
BACA JUGA:
Trump awalnya mengusulkan untuk memindahkan seluruh 2,3 juta penduduk Gaza ke negara-negara termasuk Mesir dan Yordania dan mengembangkan Jalur Gaza sebagai resor milik AS.
Namun, tidak ada negara yang setuju untuk menerima penduduk tersebut dan Israel sejak itu mengatakan setiap keberangkatan oleh warga Palestina akan bersifat sukarela.